Rasulullah pernah berdoa:
“Allahumma ahyinii miskiinan, wa amitnii miskiinan, wahsyurnii fii jumratil masaakiin”.
Artinya, “Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin”.
Apakah Rasulullah ingin hidup miskin & menjadi contoh bagi umatnya agar hidup miskin?
Ternyata yang dimaksud Rasulullah dg kata "miskin” ini adalah “khusyuk” dan “tawadlu’”, sebagaimana sifat orang yg ndak punya apa-apa (miskin, dalam pemahaman kita) itu khusyuk & tawadlu’, ndak sibuk dengan harta yg dimilikinya & ndak sibuk mengumpulkan kekayaan dunia.
Jadi, yang diminta Nabi kepada Allah adalah agar selalu khusyuk & tawadlu’.
Dari sisi bahasa, مسكين (miskiin) itu satu rumpun dg سكينة (sakiinah). Orang yg hidupnya khusyuk & tawadlu’ itu pasti cenderung sakinah. Adem ayem.
Kita tahu ada orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab. Dan ternyata, yang dihisab itu adalah apa yang kita bawa di dalam hati kita.
Kalau kita merasa punya amalan yg menggunung, lalu mengandalkannya untuk masuk surga, membawanya di dalam hati kita, merasa bahwa amalan kita itu bisa diandalkan, maka itulah yg akan dihisab. Kalau harta kita ada di dalam hati kita, itu jugalah yang akan dihisab nanti.
Nah, orang-orang yang “miskin”, ndak merasa punya apa-apa, bahkan ndak merasa punya amalan yg bisa diandalkan untuk membawa ke surga, maka dia akan “sakinah”.
Apa yang akan dihisab?
Toh dia merasa bahwa apa yang dia miliki, apa yang dia lakukan, ibadah apa yang dia kerjakan itu semua semata dari Allah dan karena Allah yang menggerakkannya. Dia merasa ndak ada yang dari dirinya. Apa yg akan dihisab? Ndak ada..
Bahkan kalau dosa pun ndak ada, maka dia akan langsung masuk surga tanpa hisab.
Karena pada dasarnya, kita memang miskin. Kita muncul tanpa punya apa-apa. Lalu jadi punya. Lalu nanti yang kita punya itu akan lepas pula dari kita..
Kalau kita merasa miskin, tidak meletakkan yang kita punya itu di dalam hati, InsyaAllah hidup akan sakinah.