Photo
Alhamdulillah…
.
Terimakasih untuk semuanya, khususnya kepada guru-guru kami, KH. M. Bashori Alwi, KH. M. Tholhah Hasan, KH. M. Luthfi Bashori, dan guru-guru kami yg lain yg turut hadir serta mendoakan.
.
Terimakasih untuk orangtua kami, Bapak, Ibu,...

Alhamdulillah…
.
Terimakasih untuk semuanya, khususnya kepada guru-guru kami, KH. M. Bashori Alwi, KH. M. Tholhah Hasan, KH. M. Luthfi Bashori, dan guru-guru kami yg lain yg turut hadir serta mendoakan.
.
Terimakasih untuk orangtua kami, Bapak, Ibu, Ayah dan Mama. Juga untuk saudara-saudara kami, @hamdanovic20 @lailaturrahmah @shidqi_el_cimon @mrifqinaufal @isykarimanindya @firdatus @rasyidrdh05.
.
Terimakasih untuk saudara, kerabat, teman, tetangga, dan semua yg hadir di syukuran walimah & resepsi pernikahan kami.
.
Tak lupa juga untuk @arknay @fahmi.photowork @frasesingkat, terimakasih telah mendukung hajatan ini.
.
Saatnya memulai hidup baru. Doakan kami. 🙏😊
.
Salam ❤️,
@elhashif & @njundnyun

Photoset

anisrania:

#takemewithyoutojannah

(Source: asmae0, via dokterfina)

Text

karena aku sangat mudah untukmu

prawitamutia:

karena aku sangat mudah untukmu.

kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian.

kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan.

kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku.

kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa.

karena aku sangat mudah untukmu,
semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga.

semoga aku sangat berarti untukmu.

(via kurniawangunadi)

Text

Hai kau yang pernah meninggalkan kenangan, kulihat gurat lelah di wajahmu. Bersabarlah!

Photo
Hidup adalah sebuah perjalanan. Maka, meninggalkan dan ditinggalkan adalah keniscayaan. Ini hanya masalah waktu.
Ada yang meninggalkan kita dengan berjuta hal yang indah untuk dikenang. Ada pula yang meninggalkan kita dengan kepahitan yang, meski...

Hidup adalah sebuah perjalanan. Maka, meninggalkan dan ditinggalkan adalah keniscayaan. Ini hanya masalah waktu.

Ada yang meninggalkan kita dengan berjuta hal yang indah untuk dikenang. Ada pula yang meninggalkan kita dengan kepahitan yang, meski pahit, tetap ada manis-manisnya untuk dikenang.

Ada yang meninggalkan kita tanpa hal apapun untuk dikenang, tanpa meninggalkan rasa apapun.

Kita pun sama. Kita akan meninggalkan. Dan kita bisa memilih apa yang akan kita tinggalkan untuk seseorang. Maka pastikan bahwa yang kita tinggalkan bermanfaat dan layak dikenang dengan manis.

Text

Miskin & Sakinah

Rasulullah pernah berdoa:

“Allahumma ahyinii miskiinan, wa amitnii miskiinan, wahsyurnii fii jumratil masaakiin”.

Artinya, “Ya Allah ! Hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku (pada hari kiamat) dalam rombongan orang-orang miskin”.

Apakah Rasulullah ingin hidup miskin & menjadi contoh bagi umatnya agar hidup miskin?

Ternyata yang dimaksud Rasulullah dg kata "miskin” ini adalah “khusyuk” dan “tawadlu’”, sebagaimana sifat orang yg ndak punya apa-apa (miskin, dalam pemahaman kita) itu khusyuk & tawadlu’, ndak sibuk dengan harta yg dimilikinya & ndak sibuk mengumpulkan kekayaan dunia.

Jadi, yang diminta Nabi kepada Allah adalah agar selalu khusyuk & tawadlu’.

Dari sisi bahasa, مسكين (miskiin) itu satu rumpun dg سكينة (sakiinah). Orang yg hidupnya khusyuk & tawadlu’ itu pasti cenderung sakinah. Adem ayem.

Kita tahu ada orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab. Dan ternyata, yang dihisab itu adalah apa yang kita bawa di dalam hati kita.

Kalau kita merasa punya amalan yg menggunung, lalu mengandalkannya untuk masuk surga, membawanya di dalam hati kita, merasa bahwa amalan kita itu bisa diandalkan, maka itulah yg akan dihisab. Kalau harta kita ada di dalam hati kita, itu jugalah yang akan dihisab nanti.

Nah, orang-orang yang “miskin”, ndak merasa punya apa-apa, bahkan ndak merasa punya amalan yg bisa diandalkan untuk membawa ke surga, maka dia akan “sakinah”.

Apa yang akan dihisab?
Toh dia merasa bahwa apa yang dia miliki, apa yang dia lakukan, ibadah apa yang dia kerjakan itu semua semata dari Allah dan karena Allah yang menggerakkannya. Dia merasa ndak ada yang dari dirinya. Apa yg akan dihisab? Ndak ada..

Bahkan kalau dosa pun ndak ada, maka dia akan langsung masuk surga tanpa hisab.

Karena pada dasarnya, kita memang miskin. Kita muncul tanpa punya apa-apa. Lalu jadi punya. Lalu nanti yang kita punya itu akan lepas pula dari kita..

Kalau kita merasa miskin, tidak meletakkan yang kita punya itu di dalam hati, InsyaAllah hidup akan sakinah.

Video

(Source: catatanbesarku)

Text

Mimpi tentang #Aleppo

Empat malam yang lalu, aku bermimpi tentang Aleppo. Mimpi yang singkat.

Suatu ketika aku berada di dalam sebuah pesawat angkut (semacam C-130 atau A400M) bersama beberapa orang dalam satu peleton. Kami semua dipersenjatai. Aku pun membawa senjata. Kami dalam penerbangan ke suatu daerah untuk bertempur melawan musuh. Tidak jelas siapa. Yang pasti, musuh Islam tentunya.

Aku memperhatikan perawakan & tampang beberapa orang di sekitar saya. Hampir semua berwajah Arab. Tapi mereka berasal dari berbagai daerah yang berbeda di timur tengah. Ada pula beberapa yang berwajah Asia, tapi saya tidak begitu mengenal mereka.

Selama perjalanan, beberapa dari kami saling berkenalan. Aku bertanya pada orang di depanku, salah satu yang penampilannya paling lusuh dengan gurat wajah lelah berdebu. “Antum dari mana?” tanyaku. “Dari Aleppo,” jawabnya.

Lalu aku menunduk, tak sanggup menatap matanya yang sayu saat dia mengatakan bahwa dia dari Aleppo. Aku membatin “Ya Allah, Aleppo… Bagaimana kabar Aleppo kini?”. Lalu aku menangis, nyesek…

Lalu aku terbangun. Masih nyesek. Sampai hari ini, empat hari setelah mimpi itu…

Duh Gusti, maafkan hambaMu ini, yang belum mampu berbuat banyak untuk saudara kami yang ditindas kaum dholim itu.

Mampukanlah aku untuk menolong mereka yang didholimi itu, ya Allah…

Photo
Sifat dasar lelaki itu adalah pengembara.
Ia mengembara demi memenuhi kebutuhan hidupnya, demi keutuhan harga dirinya sebagai lelaki.
Begitu pula hatinya.
Hatinya akan terus berkelana hingga menemukan ‘rumah’ yang pas untuk berpulang.
Sedangkan sifat...

Sifat dasar lelaki itu adalah pengembara.
Ia mengembara demi memenuhi kebutuhan hidupnya, demi keutuhan harga dirinya sebagai lelaki.

Begitu pula hatinya.
Hatinya akan terus berkelana hingga menemukan ‘rumah’ yang pas untuk berpulang.

Sedangkan sifat dasar perempuan adalah rumah.
Ia cenderung menunggu sang lelaki untuk mengetuk pintu hatinya. Sembari menunggu, perempuan yang baik senantiasa merawat ‘rumah’ dirinya agar pantas diketuk oleh pria yang baik, juga menjaga agar tak bisa diketuk oleh sembarang pria.

Dalam pengembaraannya, terkadang lelaki ingin singgah. Tapi lelaki yang baik takkan sembarangan singgah. Ia takkan menyakiti.

Lelaki yang baik takkan menjadikan perempuan hanya sebagai tempat singgah. Lelaki yang baik akan menjadikan perempuan sebagai rumah tempat kembalinya, tempatnya beristirahat menenangkan diri dari hiruk-pikuk pengembaraan dunia.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua. Tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia…

(Cuplikan puisi B.J. Habibie untuk almarhumah istrinya)
Photoset

tobeagenius:

There are 4 Types of Introvert. Which one(s) are you? 

Take the test here!

(via urfa-qurrota-ainy)

Text

Hi princess..

Aku khawatir, jika membawamu ke dalamku untuk memahami rapuhku hanya akan menyakitimu nanti..

Text

Ternyata, saya belum bisa sepenuhnya menguasai diri dari pengaruh suasana hati.

Text

Seperti dulu: Independen. Tidak butuh siapapun untuk menceritakan apapun tentang diri.

Bedanya, kali ini ditemani oleh segores luka. Segores luka yang membuat diri tersungkur, lalu membuat diri belajar untuk berubah ke arah yang insyaAllah positif.

Text

Beberapa hari terakhir ini hasrat ngoding jauh lebih menggebu-gebu daripada waktu kuliah dulu.

Meski sekarang lagi di RS dan nggak bisa ngoding karena nggak ada internet, yg ada di pikiran selalu algoritma.

Kok gak biyen-biyen koyok ngene? 😂

Quote
"Kamu satu-satunya yang melihat selemah-lemahnya, aku disaat mereka melihat sekuat-kuatnya aku. Bisakah kali ini, kamu menjadi satu-satunya yang melihat kuatnya aku saat mereka mulai melemahkanku?"

— Kamu pernah bilang, aku akan lebih sanggup menghadapi kenyataan yang pahit kan? (via miadwis)